Wali Kota Terima Kunjungan Helsingborg

Wali Kota Hadi Zainal Abidin kembali menerima kunjungan dari Helsingborg, Swedia, Minggu (30/6) sore. Kunjungan ini terkait penawaran untuk kerja sama lanjutan terkait pengelolaan persampahan, pengembangan dan inovasi lingkungan.

Kedatangan Wakil Direktur NSR (Perusahaan Pengelolaan Sampah Regional di Swedia) Berner Lunggren dan Global Bussines Development VERAPARK, Jessica Magnusson disambut di rumah dinas wali kota. Sore itu wali kota didampingi Asisten Ekonomi Pembangunan Achmad Sudiyanto, Kepala DLH Budi Krisyanto, Kepala Diskominfo Aman Suryaman dan perwakilan Bappeda Litbang.

Ya, Kota Probolinggo punya komitmen yang tinggi terkait pengelolaan lingkungan salah satunya soal sampah. Beberapa permasalahan yang menjadi isu strategis, jelas Wali Kota Habib Hadi, adalah manajemen pengelolaan sampah yang belum maksimal. Kemudian adanya peningkatan pengendalian dampak perubahan iklim dan peningkatan penanganan energi terbarukan.

Isu lainnya yaitu penataan dan pemeliharaan ruang terbuka hijau belum optimal. Ditambah masih belum optimalnya pengelolaan, pengawasan, dan pengaturan sumber daya lingkungan. “Untuk mencai solusi ini kami perlu memperluas jaringan dan menjalin kerjasama dengan daerah lain,” ujar Habib Hadi.

Berner Lundgren berharap, diskusi yang akan dilakukan bersifat terbuka sehingga Pemerintah Kota Probolinggo dan NSR bisa saling bertukar ide. Diskusi terbuka yang dimaksud Berner adalah menampung berbagai ide atau gagasan dari Kota Probolinggo tidak terbatas isu lingkungan saja, bisa menyangkut pengembangan UMKM dan lainnya.

“Konsep yang kami tawarkan mengenai pengelolaan sampah, pembangunan TPA (tempat pembuangan akhir) dan mendidik anak-anak di sekitar TPA untuk bersekolah,” katanya.

“Saya sangat senang bisa ikut membantu Kota Probolinggo. Mari kita coba melakukan yang terbaik di kota ini,” Jessica Magnusson. Jessica sudah sering ke Indonesia, khususnya ia menangani soal persampahan di Kota Palu.

Kepala DLH Budi Krisyanto mengatakan, Pemerintah Kota Probolinggo berencana memperluas sanitary landfill/membangun sel baru di TPA seluas 4000 m2. Tapi, perluasan itu hanya bisa bertahan sekitar tiga tahun menampung sampah di Kota Probolinggo. “Lalu rencana selanjutnya apa tiga tahun mendatang?,” tanya Jessica.

“Ada beberapa solusi. Pertama perluasan TPA, lalu menggunakan teknologi incenerator atau menggunakan TPA regional. Tapi dua solusi terakhir (incenerator dan TPA regional) harus bekerja sama dengan daerah lain. Wali kota kami akan mengkomunikasikannya kepada gubernur,” terang Budi Kris-sapaannya.

Setiap hari produksi sampah di Kota Probolinggo sekitar 170 ton, yang masuk ke TPA kisaran 54 ton saja. Sisanya dikelola oleh masyarakat, didaur ulang, dibawa ke tempat lain, dibakar, dibuang ke sungai dan ada yang tidak teridentifikasi.

Apa itu VERAPARK?

VERAPARK adalah rumah kaca untuk pengembangan dan inovasi terkait lingkungan. Sebuah laboratorium besar di alam dengan bahan daur ulang. Di Helsingborg, VERAPARK berfungsi sebagai jaringan perusahaan dan kelompok.

VERAPAK menggunakan ekonomi sirkular yaitu sistem regeneratif dimana input sumber daya dan limbah, emisi dan kebocoran energi yang diminimalkan dengan memperlambat, menutup dan mengurangi bahan dan solusi energi.

“VERAPARK menggandeng perusahaan swasta, akademisi, masyarakat dan pemerintah. Kita akan lihat dulu, apakah konsep VERAPARK ini dapat diadopsi sepenuhnya oleh Kota Probolinggo atau konsepnya disesuaikan dengan kondisi disini,” kata Berner Lundgren.

Dari pengelolaan sampah dan lingkungan itu, akan muncul sisi ekonomi, bisnis baru di Kota Probolinggo. Konsep teknologi yang disampaikan oleh Berner, bukan hanya membuang sampah tapi diolah kembali menjadi sesuai yang punya nilai jual seperti listrik, biogas, pupuk dan sebagainya.

“Ya, saya setuju. Karena memang kita membutuhkan teknologi canggih dan manfaatnya dapat dikembalikan lagi kepada masyarakat,” sahut Habib Hadi.

“Teknologi sudah siap, tinggal nanti menyesuaikan saja,” sambung Berner yang juga Sterring Commitee kerjasama Helsingborg dan Kota Probolinggo ini.

Menurut Habib Hadi, Pemkot Probolinggo harus belajar dan tahu banyak soal VERAPARK untuk mengetahui teknologi ini memang bisa diterapkan di Kota Bayuangga. “Bimbing kami, dan kami nantinya juga akan menggerakan perusahaan lokal yang ada. Karena konsep ini bisa memunculkan perekonomian mandiri di masyarakat,” imbuhnya.

Soal pendanaan, Berner menyatakan akan membantu mencarikan solusinya karena Swedia dan VERAPARK tidak bisa memberikan bantuan. Bantuan yang dimaksud bisa menggandeng pemerintah pusat atau kementerian yang kemungkinan tertarik dengan konsep yang ditawarkan.

Berner dan Jessica berencana akan tinggal di Kota Probolinggo sampai 4 Juli mendatang. Kunjungan untuk menggali fokus kerjasama lanjutan dalam pengelolaan persampahan dan energi baru terbarukan ini akan meninjau sejumlah lokasi seperti TPA, UPT Laboratorium, TWSL, IPAL Komunal Pakistaji, instalasi biogas, bank sampah hingga kampung PHBS dan kampung Proklim.

Selain itu, akan digelar skype meeting dengan Paul Westin dan Mathias Gustavsson di Command Center, paparan perencanaan pembangunan landfill baru serta diskusi akhir memantapkan kerjasama. (famydecta/humas)